MENGAPA ANAK-ANAK SUKA DONGENG

02.17
Dahulu kala, di negeri Antah Berantah … demikianlah  awal  sebuah  dongeng, dan itu berarti, sekarang ini keadaannya tidak seperti dalam dongeng serta tidak terjadi di sini. Mungkin kita masih ingat cerita dari dunia khayal yang didongengkan oleh ibu, ayah, atau nenek kita, misalnya cerita Timun Emas, Bawang Putih Bawang Merah, Putri Salju, Putri Tidur, atau cerita tentang pangeran yang kena sihir, tentang peri yang baik hati, atau tentang tukang sihir yang tinggal di hutan. Cerita Abu Nawas mengajarkan tentang jangan sombong, si katak yang terus berjuang tanpa mendengar ocehan orang lain, dan cerita lainnya.

Mungkin kita juga masih ingat waktu itu ibu, ayah, atau nenek bercerita sambil memangku kita, atau sambil tidur-tiduran di samping kita, sampai kita terlelap sebelum cerita berakhir. Atau bahkan mata kita belum dapat terpejam sebelum mereka mengakhiri ceritanya seperti ‘akhirnya serigala itu mati, lalu perutnya dibedah … dan keluarlah si topi merah dan neneknya. Maka mereka pun hidup bahagia untuk selamanya …’ Pada jaman modern ini, apakah dunia dongeng masih mempunyai arti bagi anak-anak?

Kaset menggantikan guru

“Apakah anak  Anda senang mendengarkan dongeng?”. “Apakah Anda mendongeng  sendiri secara santai atau membacakan dongeng tersebut dari buku?”. “Apakah anak Anda lebih senang mendengarkan cerita dari kaset daripada diceritakan oleh orang tuanya?”, Dongeng merupakan  sarana pemenuhan kebutuhan seorang anak  akan alam khayal. Menurut seorang pendongeng nasional, Ismadi Retty, dongeng  tidak hanya bertujuan menghibur. Namun, dalam materi yang diceritakan, sang pendongeng bisa memasukkan pesan yang bertujuan untuk memberi nasihat dan pelajaran kepada anak-anak usia prasekolah.

Dongeng menolong mengatasi ketegangan-ketegangan di dalam diri anak. Tanpa sadar, seorang anak mengalami bermacam-macam konflik batin dalam tahap perkembangan rohaninya, dan ia dapat mengatasinya dengan menyalurkan ke alam khayal. Apabila anak tidak diperkenalkan dengan dongeng atau dunia khayal, maka ia kelak  tidak mampu menghayalkan ‘satu cerita’ yang dapat membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Anak-anak sangat suka mendengar cerita dongeng berupa kisah nabi-nabi, tentang Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat, cerita suri tauladan bahkan cerita lucu. Melalui dongeng yang diceritakan oleh ayah atau ibu, si anak merasa dimengerti  keinginannya, ketakutannya, kekecewaannya, harapan-harapannya yang membubung tinggi. Selain itu, ia memperoleh bukti bahwa dalam dunia khayalnya, ia tidak sendiri.

Ternyata orang yang paling dicintai dan dibutuhkannya, juga membuat kehidupan khayal tersebut bersamanya. Hasil penyelidikan membuktikan bahwa anak-anak yang diceritakan atau dibacakan dongeng oleh orang tua atau gurunya  mempunyai taraf kemampuan dan kecerdasan yang lebih tinggi dari pada yang memperoleh dongeng dari televisi atau kaset. Kecerdasan sangat terkait dengan imajinasi. Unsur drama dan mimik muka saat mendongeng membuat imajinasi anak bertambah.

Sifat anak suka meniru sehingga ketika mendengarkan dongeng, kreativitas anak itu dipicu oleh kreativitas si pendongeng. Inilah alasan mengapa anak-anak yang suka mendengarkan dongeng, memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Selain itu, anak-anak yang biasa didongengkan oleh orang tuanya, umumnya mempunyai sikap yang tenang, lebih stabil, lebih menyenangkan, dan lebih bersifat terbuka.

Mereka juga dikatakan memiliki daya ingat yang lebih baik. Namun, tampaknya dewasa ini para orang tua tidak lagi mengikuti kebiasaan mendongeng bagi anak-anaknya. Bukan berarti anak-anak sekarang tidak kenal dongeng, hanya saja dongeng itu mereka peroleh  dari buku-buku yang penuh gambar menarik, film, televisi, mau pun kaset. Dan sesungguhnya, dari sarana-sarana dongeng ini, anak-anak tidak memperoleh manfaat dongeng secara utuh. Sebab, pesona indah dunia dongeng serta artinya yang dalam, hanya bisa berkembang bila antara yang memberikan dongeng dan yang menerima dongeng terjalin suatu hubungan yang manusiawi. Dan hubungan manusiawi yang paling ideal adalah antara orang tua dan anak.

Berdasarkan penyelidikan-penyelidikan para ahli, dianjurkan agar anak-anak memperoleh dongeng langsung dari orang tuanya atau gurunya. Sedangkan kaset, film, buku bergambar, dan sebagainya hendaknya merupakan tambahan saja.

Dongeng tak masuk akal

Kenapa mendongeng? Karena anak-anak sangat suka bercerita dan sangat suka mendengar cerita. Sekali mendengar cerita, mereka akan cepat sekali ingat dan walaupun cerita itu diceritakan berulang-ulang mereka akan tetap tertawa pada waktu yang sama dengan suara tawa yang sama.

Anak-anak selalu ingat nasehat-nasehat yang diceritakan melalui dongeng. Memang dongeng adalah media efektif untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai pada anak-anak. Dongeng disinyalir sebagai sesuatu yang tak masuk akal, kejam, dan membuat takut sehingga orang tua menilai kembali manfaat dongeng.  Padahal anak-anak menanggapi dongeng berbeda daripada orang dewasa, mereka hanya mendengarkan apa yang dipahaminya. Selain itu, untuk menguasai rasa takutnya itu, seorang anak harus melalui bagian-bagian yang menakutkan yang selalu ada pada sebuah dongeng. Menurut ahli, rasa takut yang semula tak disenangi itu akan berubah menjadi kegembiraan apabila hal-hal yang menakutkan dapat diatasi atau dikalahkan oleh tokoh idaman si anak.

Selain dongeng dianggap ‘kejam’, para orang tua masa kini juga merasa ‘menipu’ atau ‘membohongi’ anak-anak jika mereka bercerita tentang orang-orang kerdil/cebol (kurcaci), raksasa, atau tukang sihir. Mereka merasa bingung jika anak bertanya: ”Apakah itu benar-benar ada?”. Sebenarnya dengan pertanyaan itu ia tidak menginginkan keterangan, melainkan hanyalah kepastian bahwa cerita itu tidak terjadi masa kini dan juga tidak terjadi di sini.

Sebaliknya, para orang tua dan guru sering  merasa ‘perlu’ menerangkan arti yang tersirat dalam dongeng itu. Padahal anak tak akan mengerti yang dijelaskan karena dalam mendengarkan dongeng, anak-anak hanya menyimak keindahan bahasa dongeng tersebut.  Selanjutnya mereka menggambarkan sendiri jalan cerita serta tokoh-tokoh dongeng itu dalam khayalan mereka. Sebab itulah pula, film atau dongeng yang digambarkan secara visual tak pernah bisa mempunyai kesan yang mendalam sebagaimana halnya bila diceritakan. Sebagai contoh, diceritakan pengalaman seorang guru taman kanak-kanak yang ingin menerangkan secara nyata mengenai serigala dari dongeng ‘Si Topi Merah’.

Guru itu mengajak anak-anaknya ke kebun binatang untuk menunjukkan kepada mereka wajah serigala sesungguhnya. Tetapi apa reaksi anak-anak tersebut? “Itu bukan srigala Si Topi Merah! Itu hanyalah seekor serigala kecil dan malang. Serigala di dongeng kami lebih kuat, buas, dan lebih perkasa.”

Berikan dongeng rakyat

Anak-anak menyukai dongeng bukanlah karena dunia dongeng sesuai dengan yang mereka khayalkan, melainkan karena ada adegan-adegan yang membuat mereka merasa marah, takut, sedih, tapi semua selalu berakhir dengan baik. Suatu hal yang semula tak terpikirkan oleh anak itu sendiri. Jadi dongeng berisikan kepastian, harapan akan masa depan, dan kepercayaan akan akhir yang bahagia. Oleh karena itu, guru/orang tua dianjurkan untuk memberikan dongeng-dongeng yang berakhir positif, dan dongeng-dongeng seperti ini biasanya terdapat dalam dongeng-dongeng rakyat.

Sebenarnya, dongeng rakyat pada mulanya bukan dikarang untuk anak-anak, melainkan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ‘pusaka tentang ajaran hidup’. Oleh karena itulah, bila kita membaca beberapa dongeng rakyat dari Negara yang berlainan, kita akan segera melihat motif-motif yang sama. Misalnya: di barat ada Cinderella, di Arab ada Abu Nawas,  di Indonesia ada “Bawang Merah dan Bawang Putih”, yang menceritakan bagaimana kebaikan akhirnya mendapatkan ganjarannya. Ini merupakan bukti bahwa dongeng adalah gambaran jiwa manusia dan dapat dianggap khasanah kebudayaan yang universal.

Dalam mendongeng, guru harus mengubah suara (suara cempreng binatang, atau suara berat), mengeluarkan ekspresi aneh, dan melakukan tingkah konyol, sehingga mereka tertawa terpingkal-pingkal. Guru PAUD yang hebat adalah yang mau dan bisa mendongeng, karena mereka bisa menghibur anak-anak sekaligus mengajarkan mereka tanpa terlihat terlalu memaksa. Tidak semua orang mempunyai bakat mendongeng, tapi setiap orang bisa belajar, Banyak anak cerdas dan berbakat di sekitar kita. Namun, kadang-kadang mereka tidak terlihat atau tidak ‘muncul’ karena mereka tidak mampu mengungkapkan diri. Anak-anak semacam itu butuh dibantu agar punya kepercayaan. Salah satu caranya, berilah mereka itu dongeng sejak kecil,

Bagaimana cara mulai mendongeng?

Orang tua menjadi pendongeng pertama untuk anak mereka. Guru-guru hanyalah penerus dongeng dari para orang tua. Untuk mendongeng, carilah bahan yang sederhana. Pakailah cerita yang sudah ada, misalnya cerita rakyat. Pelajari dan bacalah cerita itu berkali-kali sehingga sungguh menjiwai. Kemudian, cobalah mendongengkannya di depan cermin dulu  seperti yang dilakukan oleh para pemain film terkenal.

Banyak manfaat bagi anak ketika mendengarkan sebuah cerita atau dongeng, mereka jadi aktif bicara dan sekaligus kemampuan mendengarnya terasah. Melalui dongeng, anak-anak berimajinasi dan mengembangkan memori mereka. Dongeng membuat minat membaca dan menulis menjadi besar. Melalui dongeng, anak-anak mempelajari berbagai tingkah laku dan karakter. Dan, tentu saja, dongeng selalu membuat mereka gembira.

Ketika mulai mendongeng, katakan pada anak-anak apakah mereka ingin mendengar cerita baru. Setiap anak selalu suka mendapat sesuatu yang baru. Lalu, mulailah mendongeng. Ketika anak-anak sudah suka pada dongeng tersebut, ajaklah anak-anak juga untuk mendongeng. Ceritakan dulu sebuah dongeng. Lalu berilah tugas pada setiap anak untuk bercerita pada satu orang temannya. Kemudian dalam sebuah lingkaran, anak-anak diberi waktu 1 menit untuk saling menceritakan dongeng yang sudah mereka ceritakan itu. Satu menit ini penting, karena membuat mereka harus disiplin dan berpikir kreatif.

Mendongeng atau bercerita adalah salah satu metode dalam pendidikan anak, Menurut beberapa pakar, dengan membacakan cerita atau mendongeng selama 20 menit saja, tingkat kecerdasan anak dalam membaca dan menulis kreatif akan naik secara signifikan. Nilai 20 menit storytelling itu setara dengan sekurang-kurangnya 10 hari belajar di sekolah. Woow!

Artikel Terkait

Previous
Next Post »