POHON YANG BERSEDIH

20.16 0
POHON YANG BERSEDIH

Di sebuah hutan. Hiduplah pohon beringin yang besar dan teduh, tempat aneka satwa hutan bermain dan berlindung dari panas matahari. Pohon Beringin ini selalu ceria dan ramah kepada semua penghuni hutan tersebut. Tapi sudah beberapa hari ini, pohon beringin kelihatan bersedih. Pohon beringin itu terlihat sangat murung… sehingga membuat semua penghuni hutan bingung dan bertanya-tanya. Kenapa ya… Pak Beringin yang biasanya teduh dan  ceria, tiba-tiba menjadi murung dan bersedih.

Kemudian datanglah Kodi si Kodok Budiman dan bertanya “ worrk… worrrk assalamu’alaikum pak beringin, kenapa ya.. bapak pagi-pagi begini sudah bersedih?”
Dengan lesu pak beringin menjawab “ wa’alaikum salam Kodi.. aku memang sedang bersedih karena semua anggota tubuhku sedang bermusuhan…”
“hah?? Bermusuhan kenapa bisa bermusuhan pak? Kodi sangat terkejut mendengar jawaban dari pak beringin.

Dengan wajah murung pak beringin menjawab “ aku tidak tahu sebabnya Kodi.. tapi mulai dari akar, batang, ranting dan daunku semua sedang STK…”
“wah… apa pula STK itu pak? Apa sekolah taman kanak-kanak?” Tanya kodi bingung.
“ha.. ha.. bukan itu Kodi, STK itu… artinya Sudah Tidak Kawan alias sedang jotakkan.. apa ya.. namanya kalau disini? Hmmm pokoknya sedang musuhan gitu deh…”
“ oh… sedang musuhan?
“ itulah masalahnya Kodi.. cobalah lihat kodi, sekarang tubuhku mulai mengering, batangku mulai berkerut, rantingku mulai lemah, daun-daunku mulai layu dan berguguran,..” kata pak beringin memelas
“Apa sudah bapak tanyakan sebabnya, kenapa bisa musuhan?”
“ nah itulah Kodi.. waktu kutanya, semuanya pada diam.. coba  Kodi yang bertanya kepada mereka… siapa tahu mereka mau menjawabnya..” kata pak beringin meminta tolong pada Kodi.
“worrk… worrrk .. baiklah pak.. kodi akan mencoba bertanya ya..
Kemudian kodi melompat menuju ke akar pohon beringin yang sebagian menonjol keluar dari tanah.

“worrk… worrrk .. assalamu’alaikum sahabatku, akar yang baik..” sapa Kodi ramah
“wa’alaikum salam Kodi” jawab akar malas-malasan
“sahabatku yang baik.. bolehkah kodi bertanya..? Tanya kodi lagi
“mau bertanya apa Kodi?”
“begini.. tadi Kodi bertanya pada pak Beringin kenapa bapak bersedih? Terus kata pak beringin, pak beringin bersedih karena seluruh anggota tubuhnya sedang bermusuhan.. kenapa bisa begitu… sahabatku.” Kodi bertanya lagi dengan lembut..
“Hhhh… Kodi.. sebenarnya aku tidak suka bermusuhan.. tapi aku sedang kesal dengan si batang.. itu tuh…” kata akar sambil melirik ke arah batang di atasnya.
“ kenapa sih kesal dengan batang?
“ tentu saja aku kesal… kodi. Coba pikir aja, masak kata batang aku ini jelek.. hitam.. dan kotor lagi…
“ loh… kenapa  batang bisa ngomong begitu?
“ iya nih.. jadi kesal.. terus katanya lagi … tempatku itu paling hina.. karena ditempat paling rendah.. coba… pikir.. pikir..” sungut akar jengkel.
“ o.. begitu ya.. begini aja deh.. akar sahabatku yang baik.. bagaimana kalau aku coba bertanya pada batang.. kenapa dia berkata begitu..” kata Kodi bijak..
“ enggg.. bolehlah.. kalau Kodi rasa itu yang terbaik.. aku akan menunggu apa jawabannya ya..” si akar akhirnya mau menunggu jawaban si batang pohon yang akan ditanya oleh si Kodi


Kemudian si Kodipun memandang Batang dan mulai bertanya ““assalamu’alaikum sahabatku, batang yang gagah..” sapa Kodi ramah
“wa’alaikum salam Kodi yang berbudi, ada kabar apa? Kok tiba-tiba menyapaku?” jawab batang dengan suaranya yang besar dan berwibawa.
“worrkk… emangnya aku gak boleh ya menyapa sahabatnya?”
“ho.. ho.. bukan begitu Kodi, aku Cuma heran kenapa tiba-tiba kau menyapaku”
“ya.. okelah kalau begitu.. aku jelasin ya.. nah.. tadi aku bertemu dengan pak beringin yang bersedih karena semua anggota tubuhnya sedang bermusuhan, kemudian aku bertanya pada akar yang…”
“ yang jelek.. hitam… dan kotor itu?? Hik…” kata batang pongah..
“ nah… betul..betul.. betul.. itulah yang dikeluhkan si akar… katanya si batang selalu menghinanya… begitu”
“ Kodi.. sebenarnya aku tidak bermaksud menghina si akar tapi aku kesal karena ranting juga selalu menyindirku…”
“menyindir bagaimana?
“ kata ranting, aku ini percuma memiliki batang yang besar.. hanya menjadi beban saja untuk akar, katanya.. akukan jadi kesal…”
“ loh… e.. loh… masak ranting bicara begitu.. bukannya ranting juga hidup menempel di batangmu?”
” itulah si ranting itu.. sudah menumpang ditubuhku masih juga begitu sombongnya..
“ tapi kenapa akar yang kau hina?
“habis aku kesal sih… cobalah tanyakan saja pada ranting kenapa selalu menyindirku? Kata batang
“ baiklah batang, akan kutanyakan pada ranting kenapa ranting suka menyindirmu” kodi kemudian melihat ke arah ranting dan bertanya.


“assalamu’alaikum ranting sahabatku, kenapa ya kau selalu menyindir si batang, diakan jadi kesal dan jadi menghina akar.. “
“wa’alaikum salam Kodi, eng… anu.. aku sebenarnya juga sedang kesal dengan daun yang selalu mengejekku..
“kenapa pula dengan daun?
“ daun bilang, tubuhku terlalu kecil dan bercabang-cabang sehingga membuat daun tidak bisa berkumpul di satu tempat yang besar..
“o.. begitu.. masalahnya. Baiklah aku akan bertanya pada daun ya..”
Kodi kembali bertanya dan memandang ke arah daun-daun yang banyak terdapat di ranting-ranting pohon beringin.


““assalamu’alaikum daun-daun sahabatku, maaf ya aku mau bertanya, kenapa ya kalian selalu mengejek si ranting, rantingkan jadi kesal dan akhirnya mengejek si batang.. “
“wa’alaikum salam Kodi, he.. he.. maafkan aku juga … anu.. aku sebenarnya cuma iseng aja.. he.. becanda gitu…
“apa iseng? Astaghfirullah .. daun-daun sahabatku, tahukah kamu akibat perbuatanmu itu? Semua saudaramu menjadi sedih dan saling menjelekkan..
“iya.. akukan sudah bilang maaf.. aku tidak tahu kalau akibatnya akan seperti ini”
“tentu saja akibatnya akan tambah buruk kalau tidak cepat diselesaikan. Coba lihat induk kalian bapak beringin ini.. lihat batangnya mulai kering, demikian juga dengan ranting dan daun-daunmu yang mulai menguning dan akan gugur..
“hu.. hukk.. aku sebenarnya sedih dan mau minta maaf tapi aku malu.. hukkk..”
“iya kodi mengerti.. tapi sebenarnya kalian adalah saudara yang semuanya hebat.. coba bayangkan.. akar itu biarpun tempatnya ditanah yang kotor dan hitam, tapi sangat berjasa karena selalu mencari sari makanan yang disebut unsur hara dari dalam tanah..
“betul..betul.. aku selalu rajin mencari makanan loh…”
“nah.. kemudian sari makanan itu akan dibawa oleh batang untuk diantarkan ke ranting-ranting..”
“hei.. dengar tuh.. akukan bermanfaat juga..”
“tentu saja batang bermanfaat, dan sari makanan yang diantarkan batang ke ranting-ranting itu, lalu dikirimkan ke semua daun-daun yang menjadi zat hijau daun..
“kemudian.. zat hijau daun yang kumiliki ini dimasak dengan bantuan cahaya matahari, sehingga kami bisa terus hidup dan berkembang…” kata daun pada akhirnya
“work..  wah… hebat.. betul itu. Semua bagian dari tubuh pak beringin memberikan manfaat untuk kelangsungan hidup pak beringin… jadi tidak boleh ada yang merasa lebih hebat dong..”
“aduh.. aku menyesal telah membuat kekacauan, maafkan aku ya..” kata daun-daun sedih..
“aku juga..” “aku juga.. menyesal”.. seru akar, batang dan ranting berebutan.
“alhamdulillah… semua sudah menyadari kesalahannya, mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi ya…
“iya kodi.. terima kasih sudah mau mengingatkan kami untuk saling menghargai..”
“ Sama-sama.. kalian semua sahabatku. Jadi kita harus saling mengingatkan apalagi semua mahluk hidup selalu saling bergantung karena kita semua bermanfaat.
Pak Beringin sangat gembira karena semua anggota tubuhnya sudah saling bermaafan dan menghargai, sehingga dirinya menjadi segar kembali.
“Terima kasih kodi, kau memang sahabat yang baik. Kita memang harus saling membantu dan menghargai, sebab kata pepatah “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” nah, kalau kita bersatu, maka kita akan tetap kuat, betul kan?”
“betul… betul… betul…” terdengar seruan gembira dari mereka semua.

Sejak itu pak beringin selalu terlihat ceria, semakin besar dan teduh, sehingga semua penghuni hutan makin ramai yang bermain di bawah pohon beringin…

MENGAPA ANAK-ANAK SUKA DONGENG

MENGAPA ANAK-ANAK SUKA DONGENG

02.17 0
Dahulu kala, di negeri Antah Berantah … demikianlah  awal  sebuah  dongeng, dan itu berarti, sekarang ini keadaannya tidak seperti dalam dongeng serta tidak terjadi di sini. Mungkin kita masih ingat cerita dari dunia khayal yang didongengkan oleh ibu, ayah, atau nenek kita, misalnya cerita Timun Emas, Bawang Putih Bawang Merah, Putri Salju, Putri Tidur, atau cerita tentang pangeran yang kena sihir, tentang peri yang baik hati, atau tentang tukang sihir yang tinggal di hutan. Cerita Abu Nawas mengajarkan tentang jangan sombong, si katak yang terus berjuang tanpa mendengar ocehan orang lain, dan cerita lainnya.

Mungkin kita juga masih ingat waktu itu ibu, ayah, atau nenek bercerita sambil memangku kita, atau sambil tidur-tiduran di samping kita, sampai kita terlelap sebelum cerita berakhir. Atau bahkan mata kita belum dapat terpejam sebelum mereka mengakhiri ceritanya seperti ‘akhirnya serigala itu mati, lalu perutnya dibedah … dan keluarlah si topi merah dan neneknya. Maka mereka pun hidup bahagia untuk selamanya …’ Pada jaman modern ini, apakah dunia dongeng masih mempunyai arti bagi anak-anak?

Kaset menggantikan guru

“Apakah anak  Anda senang mendengarkan dongeng?”. “Apakah Anda mendongeng  sendiri secara santai atau membacakan dongeng tersebut dari buku?”. “Apakah anak Anda lebih senang mendengarkan cerita dari kaset daripada diceritakan oleh orang tuanya?”, Dongeng merupakan  sarana pemenuhan kebutuhan seorang anak  akan alam khayal. Menurut seorang pendongeng nasional, Ismadi Retty, dongeng  tidak hanya bertujuan menghibur. Namun, dalam materi yang diceritakan, sang pendongeng bisa memasukkan pesan yang bertujuan untuk memberi nasihat dan pelajaran kepada anak-anak usia prasekolah.

Dongeng menolong mengatasi ketegangan-ketegangan di dalam diri anak. Tanpa sadar, seorang anak mengalami bermacam-macam konflik batin dalam tahap perkembangan rohaninya, dan ia dapat mengatasinya dengan menyalurkan ke alam khayal. Apabila anak tidak diperkenalkan dengan dongeng atau dunia khayal, maka ia kelak  tidak mampu menghayalkan ‘satu cerita’ yang dapat membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Anak-anak sangat suka mendengar cerita dongeng berupa kisah nabi-nabi, tentang Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat, cerita suri tauladan bahkan cerita lucu. Melalui dongeng yang diceritakan oleh ayah atau ibu, si anak merasa dimengerti  keinginannya, ketakutannya, kekecewaannya, harapan-harapannya yang membubung tinggi. Selain itu, ia memperoleh bukti bahwa dalam dunia khayalnya, ia tidak sendiri.

Ternyata orang yang paling dicintai dan dibutuhkannya, juga membuat kehidupan khayal tersebut bersamanya. Hasil penyelidikan membuktikan bahwa anak-anak yang diceritakan atau dibacakan dongeng oleh orang tua atau gurunya  mempunyai taraf kemampuan dan kecerdasan yang lebih tinggi dari pada yang memperoleh dongeng dari televisi atau kaset. Kecerdasan sangat terkait dengan imajinasi. Unsur drama dan mimik muka saat mendongeng membuat imajinasi anak bertambah.

Sifat anak suka meniru sehingga ketika mendengarkan dongeng, kreativitas anak itu dipicu oleh kreativitas si pendongeng. Inilah alasan mengapa anak-anak yang suka mendengarkan dongeng, memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Selain itu, anak-anak yang biasa didongengkan oleh orang tuanya, umumnya mempunyai sikap yang tenang, lebih stabil, lebih menyenangkan, dan lebih bersifat terbuka.

Mereka juga dikatakan memiliki daya ingat yang lebih baik. Namun, tampaknya dewasa ini para orang tua tidak lagi mengikuti kebiasaan mendongeng bagi anak-anaknya. Bukan berarti anak-anak sekarang tidak kenal dongeng, hanya saja dongeng itu mereka peroleh  dari buku-buku yang penuh gambar menarik, film, televisi, mau pun kaset. Dan sesungguhnya, dari sarana-sarana dongeng ini, anak-anak tidak memperoleh manfaat dongeng secara utuh. Sebab, pesona indah dunia dongeng serta artinya yang dalam, hanya bisa berkembang bila antara yang memberikan dongeng dan yang menerima dongeng terjalin suatu hubungan yang manusiawi. Dan hubungan manusiawi yang paling ideal adalah antara orang tua dan anak.

Berdasarkan penyelidikan-penyelidikan para ahli, dianjurkan agar anak-anak memperoleh dongeng langsung dari orang tuanya atau gurunya. Sedangkan kaset, film, buku bergambar, dan sebagainya hendaknya merupakan tambahan saja.

Dongeng tak masuk akal

Kenapa mendongeng? Karena anak-anak sangat suka bercerita dan sangat suka mendengar cerita. Sekali mendengar cerita, mereka akan cepat sekali ingat dan walaupun cerita itu diceritakan berulang-ulang mereka akan tetap tertawa pada waktu yang sama dengan suara tawa yang sama.

Anak-anak selalu ingat nasehat-nasehat yang diceritakan melalui dongeng. Memang dongeng adalah media efektif untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai pada anak-anak. Dongeng disinyalir sebagai sesuatu yang tak masuk akal, kejam, dan membuat takut sehingga orang tua menilai kembali manfaat dongeng.  Padahal anak-anak menanggapi dongeng berbeda daripada orang dewasa, mereka hanya mendengarkan apa yang dipahaminya. Selain itu, untuk menguasai rasa takutnya itu, seorang anak harus melalui bagian-bagian yang menakutkan yang selalu ada pada sebuah dongeng. Menurut ahli, rasa takut yang semula tak disenangi itu akan berubah menjadi kegembiraan apabila hal-hal yang menakutkan dapat diatasi atau dikalahkan oleh tokoh idaman si anak.

Selain dongeng dianggap ‘kejam’, para orang tua masa kini juga merasa ‘menipu’ atau ‘membohongi’ anak-anak jika mereka bercerita tentang orang-orang kerdil/cebol (kurcaci), raksasa, atau tukang sihir. Mereka merasa bingung jika anak bertanya: ”Apakah itu benar-benar ada?”. Sebenarnya dengan pertanyaan itu ia tidak menginginkan keterangan, melainkan hanyalah kepastian bahwa cerita itu tidak terjadi masa kini dan juga tidak terjadi di sini.

Sebaliknya, para orang tua dan guru sering  merasa ‘perlu’ menerangkan arti yang tersirat dalam dongeng itu. Padahal anak tak akan mengerti yang dijelaskan karena dalam mendengarkan dongeng, anak-anak hanya menyimak keindahan bahasa dongeng tersebut.  Selanjutnya mereka menggambarkan sendiri jalan cerita serta tokoh-tokoh dongeng itu dalam khayalan mereka. Sebab itulah pula, film atau dongeng yang digambarkan secara visual tak pernah bisa mempunyai kesan yang mendalam sebagaimana halnya bila diceritakan. Sebagai contoh, diceritakan pengalaman seorang guru taman kanak-kanak yang ingin menerangkan secara nyata mengenai serigala dari dongeng ‘Si Topi Merah’.

Guru itu mengajak anak-anaknya ke kebun binatang untuk menunjukkan kepada mereka wajah serigala sesungguhnya. Tetapi apa reaksi anak-anak tersebut? “Itu bukan srigala Si Topi Merah! Itu hanyalah seekor serigala kecil dan malang. Serigala di dongeng kami lebih kuat, buas, dan lebih perkasa.”

Berikan dongeng rakyat

Anak-anak menyukai dongeng bukanlah karena dunia dongeng sesuai dengan yang mereka khayalkan, melainkan karena ada adegan-adegan yang membuat mereka merasa marah, takut, sedih, tapi semua selalu berakhir dengan baik. Suatu hal yang semula tak terpikirkan oleh anak itu sendiri. Jadi dongeng berisikan kepastian, harapan akan masa depan, dan kepercayaan akan akhir yang bahagia. Oleh karena itu, guru/orang tua dianjurkan untuk memberikan dongeng-dongeng yang berakhir positif, dan dongeng-dongeng seperti ini biasanya terdapat dalam dongeng-dongeng rakyat.

Sebenarnya, dongeng rakyat pada mulanya bukan dikarang untuk anak-anak, melainkan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ‘pusaka tentang ajaran hidup’. Oleh karena itulah, bila kita membaca beberapa dongeng rakyat dari Negara yang berlainan, kita akan segera melihat motif-motif yang sama. Misalnya: di barat ada Cinderella, di Arab ada Abu Nawas,  di Indonesia ada “Bawang Merah dan Bawang Putih”, yang menceritakan bagaimana kebaikan akhirnya mendapatkan ganjarannya. Ini merupakan bukti bahwa dongeng adalah gambaran jiwa manusia dan dapat dianggap khasanah kebudayaan yang universal.

Dalam mendongeng, guru harus mengubah suara (suara cempreng binatang, atau suara berat), mengeluarkan ekspresi aneh, dan melakukan tingkah konyol, sehingga mereka tertawa terpingkal-pingkal. Guru PAUD yang hebat adalah yang mau dan bisa mendongeng, karena mereka bisa menghibur anak-anak sekaligus mengajarkan mereka tanpa terlihat terlalu memaksa. Tidak semua orang mempunyai bakat mendongeng, tapi setiap orang bisa belajar, Banyak anak cerdas dan berbakat di sekitar kita. Namun, kadang-kadang mereka tidak terlihat atau tidak ‘muncul’ karena mereka tidak mampu mengungkapkan diri. Anak-anak semacam itu butuh dibantu agar punya kepercayaan. Salah satu caranya, berilah mereka itu dongeng sejak kecil,

Bagaimana cara mulai mendongeng?

Orang tua menjadi pendongeng pertama untuk anak mereka. Guru-guru hanyalah penerus dongeng dari para orang tua. Untuk mendongeng, carilah bahan yang sederhana. Pakailah cerita yang sudah ada, misalnya cerita rakyat. Pelajari dan bacalah cerita itu berkali-kali sehingga sungguh menjiwai. Kemudian, cobalah mendongengkannya di depan cermin dulu  seperti yang dilakukan oleh para pemain film terkenal.

Banyak manfaat bagi anak ketika mendengarkan sebuah cerita atau dongeng, mereka jadi aktif bicara dan sekaligus kemampuan mendengarnya terasah. Melalui dongeng, anak-anak berimajinasi dan mengembangkan memori mereka. Dongeng membuat minat membaca dan menulis menjadi besar. Melalui dongeng, anak-anak mempelajari berbagai tingkah laku dan karakter. Dan, tentu saja, dongeng selalu membuat mereka gembira.

Ketika mulai mendongeng, katakan pada anak-anak apakah mereka ingin mendengar cerita baru. Setiap anak selalu suka mendapat sesuatu yang baru. Lalu, mulailah mendongeng. Ketika anak-anak sudah suka pada dongeng tersebut, ajaklah anak-anak juga untuk mendongeng. Ceritakan dulu sebuah dongeng. Lalu berilah tugas pada setiap anak untuk bercerita pada satu orang temannya. Kemudian dalam sebuah lingkaran, anak-anak diberi waktu 1 menit untuk saling menceritakan dongeng yang sudah mereka ceritakan itu. Satu menit ini penting, karena membuat mereka harus disiplin dan berpikir kreatif.

Mendongeng atau bercerita adalah salah satu metode dalam pendidikan anak, Menurut beberapa pakar, dengan membacakan cerita atau mendongeng selama 20 menit saja, tingkat kecerdasan anak dalam membaca dan menulis kreatif akan naik secara signifikan. Nilai 20 menit storytelling itu setara dengan sekurang-kurangnya 10 hari belajar di sekolah. Woow!

Moto GP Austria : Andrea Iannone menang

Moto GP Austria : Andrea Iannone menang

05.53 0

Balapan yang sengit dalam moto GP austria. Andrea iannone keluar sebagai pemenang, setelah bertarung sengit dengan dovizioso. Selama balapan kedua pembalap ducati ini saling salip menyalib, hiangga akhir nya andrea iannone finish di depan dan dovizioso finish kedua.

Sementara posisi ketiga dan keempat di tempati oleh jorge lorenzo dan valentino rossi, sedangkan marq marquez menempati posisi lima.

Masalah dan Pemecahan Masalah yang di Hadapi Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak

Masalah dan Pemecahan Masalah yang di Hadapi Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak

01.41 0
A. Masalah yang dihadapi orang tua dalam upaya peningkatan prestasi belajar anak. 

Permasalahan umum yang dialami oleh setiap orang tua dalam memberikan dukungan terhadap anak-anaknya banyak dikarenakan kesibukan mereka mencari nafkah, mereka berdalih bahwa mereka tidak mempunyai waktu untuk sekedar membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) bagi anaknya.

Orang tua merasa bahwa waktu yang mereka miliki tidak sampai atau tidak mencukupi untuk memberikan bimbingan bagi anaknya, waktu semuanya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja. Selain permasalahan di atas, kendala Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua menjadi penyebab kurangnya mereka dalam ikut serta meningkatkan prestasi anaknya.

Banyak orang tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan tidak sedikit mereka yang tidak bersekolah sama sekali. Umumnya mereka adalah orang tua tempo dulu atau orang tua yang hidup di tempat-tempat pedalaman atu desa yang masih belum maju.  

B. Pemecahan masalah yang berkaitan dengan upaya peningkatan prestasi belajar.

Peran serta orang tua hendaknya sedini mungkin diterapkan pada anak-anak mereka, ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi anak-anak agar menjadi pribadi yang maju dan bertanggung jawab. Seberat apapun permasalahan mereka pasti dapat dilalui apabila mendapat dukungan dan bantuan dari orang tua.

Sebagai orang tua hendaknya menanamkan semangat dan disiplin kepada anak-anak mereka agar dapat berprestasi di sekolah dan kedisiplinan menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan. Kemandirian bukan berarti tanpa dukungan dari orang lain, namun kemandirian adalah usaha untuk menjalankan atau melaksanakan segala pekerjaan dengan mengandalkan kemampuan sendiri dengan dukungna dan dorongan dari orang lain.
Model Pembelajaran Kooperatif

Model Pembelajaran Kooperatif

00.04 0
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual menemukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu. 

Agar siswa dapat memahami dan menerapkan pengetahuan yang ia dapatkan,siswa harus bekerja memecahkan masalah dengan ide dan menggali dari berbagai informasi yang relevan. Menurut teori konstruktivis, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang membangun sendiri pengetahuan. 

Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jka mereka saling berdiskusi dengan temannya untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks,hal ini sesuai dengan teori konstruktivis.

Menurut Slavin dalam Rusman (2012 : 201), pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok.

Ada empat karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif dikemukakan oleh Rusman (2012:207),yaitu :

1. Pembelajaran secara tim

Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar, setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Didasarkan pada manajemen kooperatif

Manajemen dalam pembelajaran kooperatif mempunyai tiga fungsi,yaitu: 

(a) fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. 
(b) Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif. 
(c) Fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non tes.

3. Kemauan untuk Bekerja Sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerjasama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif.

4. Keterampilan Bekerja Sama

Kemampuan bekerjasama itu dipraktikkan melalui aktivitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.


Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif :

Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topik yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar.

Tahap 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi atau materi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan.

Tahap 3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membimbing setiap kelompok agar melakukan transisi secara efektif dan efisien.

Tahap 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Tahap 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Tahap 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
Contoh Abstrak Skripsi

Contoh Abstrak Skripsi

21.07 0
PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE TALKING STICK DAN THINK-TALK-WRITE PADA MATERI
BANGUN DATAR SEGI EMPAT KELAS VII SMP

Nama dan Nim

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan komunikasi matematika siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Talk-Write lebih tinggi daripada siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Talking Stick pada materi Bangun Datar Segi Empat di kelas VII SMP.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Swasta Dharma Pancasila Medan yang terdiri dari 6 kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah 70 siswa yang terdiri dari dua kelas, yaitu kelas VII-B yang merupakan kelas eksperimen A sebanyak 35 siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Talk-Write dan kelas VII-A yang merupakan kelas eksperimen B sebanyak 35 siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick. Instrumen dalam penelitian ini berupa pre test dan post test yang berbentuk essay test (uraian) masing-masing sebanyak 6 soal. Sebelum tes diberikan kepada siswa (sampel), terlebih dahulu tes divalidkan oleh 3 orang dosen dan dinyatakan valid. Hasil Uji validitas dengan rtabel = 0,312 diperoleh bahwa pada soal pre test terdapat 6 soal valid dan untuk soal post test terdapat 6 soal valid. Dan hasil uji reliabilitas soal pre test diperoleh sebesar 0,803 sedangkan pada soal post test diperoleh sebesar 0,820.

Sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitas data. Dari pengujian ini diperoleh bahwa sampel berasal dari populasi yang memiliki varians yang homogen dan berdistribusi normal. Dari analisis data pada kelas eksperimen A diperoleh nilai rata-rata pre test 46,57 dan standart deviasi pret test 8,59 sedangkan nilai rata-rata post test 81,69 dan standart deviasi post test 38,63. Pada kelas ekperimen B nilai rata-rata pre test 42,03 dan standart deviasi pret test 8,61 sedangkan nilai rata-rata post test 69,46 dan standart deviasi post test 65,96. Dari analisis data skor post test dengan menggunakan uji-t pada taraf = 0,05 diperoleh thitung > ttabel yaitu 7,07 > 1,66867 maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write lebih tinggi daripada dengan kemampuan komunikasi matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick pada materi Bangun Datar Segi Empat di kelas VII SMP. Dengan demikian berarti ada pengaruh atau peningkatan dengan model pembelajaran kooperati tipe Think-Talk-Write terhadap kemampuan komunikasi matematika siswa.